Fun Follows Function: Masih Tetap Bersenang-Senang Selama Dua Dekade

by Idhar Resmadi

1996, adalah tahun ketika Indonesia mengalami euforia budaya massa. Pada tahun itu, MTV sudah mengudara, TV swasta kian menjamur, dan geliat major label internasional merangsek ke Indonesia. Dampak dari semua itu akses terhadap informasi memberi anak muda referensi dan estetika baru yang sering kita sebut: “budaya alternatif”.

Pada masa itu, gelombang perlawanan terhadap hal-hal yang berbau mainstream sedang menggejala. Budaya alternatif tumbuh dalam segala keterbatasan. Periode itu pula Indonesia sedang mengalami krisis politik dan ekonomi cukup parah. Segala keterbatasan yang ada pada saat itu; akses terhadap media, akses terhadap kapital, atau akses terhadap industri besar, membuat segala sesuatu untuk menumbuhkan kreativitas melalui prinsip do-it-yourself (DIY). Etos yang kemudian pada akhirnya menumbuhkan sub-kultur independen ini.

Kota Bandung menjadi sentrum terhadap segala perlawanan yang menyebar lewat musik, skateboarding, fashion, dan lain sebagainya. Idealisme tumbuh untuk “melawan” dan “berbeda” dari segala sesuatu yang mainstream dan konvensional. seperti yang Tan Malaka pernah bilang, idealisme adalah hal termewah yang dimiliki anak muda.

Awal mulanya adalah sekelompok desainer yang memilki hobi surfing. Sesuatu yang sangat anti-mainstream mengingat lanskap Kota Bandung yang tak memiliki pantai. UNKL347 - yang pada saat itu masih bernama 347 boardrider.co - lahir pada saat semangat perlawanan ala budaya alternatif oleh sekumpulan desainer dan surfer di Kota Bandung - tepatnya embrio itu tercipta di sebuah rumah kost di jalan Dago 347 yang juga menjadi identitas nama sampai saat ini.

Semangat zaman atau zeitgeist untuk “melawan” itu mereka hadirkan tetap dengan bersenang-senang. Sebuah karakter yang ternyata menjaga semangat kreativitas mereka hingga melewati usia dua dekade ini. Jika dalam dunia desain kita mengenal adagium “form follows function”, maka tepat rasanya jika diplesetkan menjadi “fun follows function”. Semangat bersenang- senang itu mereka tumbuhkan dalam sub-kultur yang terus menghidupkan budaya anak muda hingga saat ini. Sub-kultur surfing, musik independen, seni grafis, dan skateboard menjadi dinamo bagi tumbuhnya segala kreativitas UNKL347. Pengaruh dari sub-kultur khas anak muda itulah yang kemudian menjadi identitas dan habitus mereka sampai saat ini.

fun follows function

Kalau berbicara karya-karya grafis UNKL347 yang saya rasakan adalah keberanian mereka untuk membawa pendekatan dan gaya baru pada produk-produk grafis pada saat itu. Pengaruh itu tidak lepas ketika pertengahan 1990-an di ranah filsafat dan seni rupa sedang gandrungnya pada gerakan post-modernisme yang dibawa oleh para pelopor aliran post-strukturalis. Segala sesuatu yang berbau “kitsch”, “pastische”, atau “parody” sedang digemari oleh anak muda, terutama yang berkecimpung di sekolah desain dan seni rupa. Akhirnya gaya itulah yang menjadi salah satu pola kreativitas UNKL347: dekonstruksi ala cut-and-paste. Kalau diperhatikan, design-design yang diciptakan dalam kaus UNKL347 berusaha untuk mendobrak segala batasan dalam desain. Mereka lebih berani dan tertarik untuk mendekonstruksi dan bermain-main (playful). Hal itu tampak terlihat ketika mereka mencomot dan memelintir, dengan seenak udel, misalnya, ikon-ikon yang ada pada musik pop untuk dijadikan karya dalam kausnya. Seperti, Eat & Sebastian (tentu saja dari band Belle and Sebastian), ikon Joy Division, Is This Eat? (judul album The Strokes, Is This It?), dan logo ikonik The Descendents, adalah beberapa diantaranya yang saya ingat.

Bahkan untuk menghadapi pembajakan yang masih menjadi momok, mereka masih melakukannya dengan cara yang “fun”. Mereka berinovasi dengan mengubah beragam logo dan nama seperti 347 boardrider.co (1996), EAT/347 (2003), dan UNKL347 (2006). Atau lewat tagline, mereka mencoba memperlihatkan bagaimana pengaruh kelokalan yang tetap membentuk identitas mereka karena semua manufaktur yang dikerjakan oleh orang-orang lokal. UNKL347 tumbuh sebagai pelopor industri kreatif yang memberdayakan industri-industri lokal.

This Is Not Made In China

Membicarakan apa saja warisan dan pergerakannya, UNKL347 tentu tak bisa dilepaskan dari berbagai kontribusinya pada sub-kultur independen ini. Pada 1999, mereka menerbitkan Ripple Magazine untuk mendokumentasikan karya-karya pelaku sub-kultur mulai dari musik, skateboarding, dan surfing. Bermula dari sebuah katalog produk, Ripple Magazine berubah menjadi kiblat utama untuk anak muda penggemar musik independen. Jangan lupakan juga, kiprah label rekaman kecil Spills Records yang muncul pada 2001 dan menelurkan band-band inspiratif seperti The Sigit, Superman Is Dead, hingga Ballads of the Cliché. Atau bagaimana pergerakan mereka untuk berkontribusi pada infrastruktur kota semisal tangga, tempat sampah, hingga bangku taman lewat Build This City yang berinovasi untuk memberikan ruang pada para skater sekaligus juga jadi fasilitas publik. Belum dengan deretan pameran-pameran seni rupa atau desain yang mereka helat. Iya, sekali lagi, fun follows function.

Kini, tampaknya geliat kreativitas yang menyenangkan itu kian melebar ke berbagai ranah: desain interior, arsitektur, hingga kuliner. Dua puluh tahun dengan beragam ide, kreativitas, dan inovasi, UNKL347 yang kini menyisakan Dendy Darman, Lucky Widiantara, Arifin Windarman, dan Anli Rizandi tetap hadir dalam semangat yang sama; fun follows function. Mereka masih tetap akan menjadi sekumpulan “Om” yang masih bersenang-senang dan berkarya lewat beragam medium.

Bandung, 22 Mei 2017

fun follows function

Posted on 2017-05-22 by Idhar Resmadi Home, Feature, Discover